Kamis, 09 Mei 2013

4,5 Tahunku Bersama Bracket


Setelah sebulan penuh kerjaan akhirnya ada waktu senggang juga. Sebenarnya waktu senggang di kantor ini mau aku gunakan untuk mencari info tentang les Toefl dan Liburan ke Bali, tapi laptopku tidak bias menyambung ke wifi dan iPhoneku kabel chargernya rusak, jadi demi baterai bisa bertahan lama, maka tidak aku sambungkan internet.
2 hari yang lalu tepatnya tanggal 6 Mei, aku baru saja lepas kawat gigi, selama ini kayaknya memang aku berhubungan erat dengan kawat gigi.  Aku pertama pakai kawat gigi sekitar bulan November 2008, dulunya aku sangat tidak percaya diri dengan gigiku, gigi yang bawah lebih maju ke depan serta berantakan, sedangkan gigi atasku sudah gingsul, tidak bagus lagi gingsulnya. Selain itu setiap ada pemeriksaan kesehatan gigi di UKS aku paling benci, karena setiap kali dokter giginya geleng – geleng mengenai gigiku yang banyak lubangnya. Selalu setiap tahunnya, gigiku yang memiliki lobang paling banyak di kelas.
Saking tidak PD nya dengan gigi sendiri, kerap kali aku tidak berani foto tersenyum dengan menampakkan gigi. Sebenarnya sejak SD, sudah langganan ke dokter gigi, kalau nggak lubang ya dicabut. Dulu biaya untuk kawat gigi hanya Rp 400.000,- tapi kalau tidak salah dokternya bilang, belum saatnya menggunakan kawat gigi. Jadi aku baru memakai kawat saat kelas XII SMA dan harganya sudah melonjak tinggi menjadi Rp 8.000.000,-.
Sebelum dipasangkan kawat, gigi tidak boleh ada yang lubang, gigi berlubangku yang awalnya ada belasan, langsung ditangani oleh drg. Yenny Chandra sehingga bim salabim, tidak gigi berlubang lagi. Saat pemeriksaan di UKS pun rasanya senang sekali tidak mendapat surat mengenai gigi berlubang dari UKS. Setelah penambalan gigi, dilakukan pencabutan gigi yang dirasa mengganggu, gigiku saat itu dicabut 2 buah di bagian bawah. Gigi geraham kalau tidak salah. Metode dokter gigi sudah cukup canggih, jika dulu aku harus menahan sakit saat gigi dicabut, sekarang ak diberi sejenis obat bius sehingga bagian gigi yang mau dicabut menjadi mati rasa.
Pemasangan kawat gigi dimulai dengan memasang bagian atas dulu, saat di lokasi, tidak terlalu sakit, begitu shocknya saat keesokan pagi terbangun dari tidur malam, gigi nyeri luar biasa, tidak semangat makan maupun bicara. Mulut terasa penuh dan terasa sariawan karena gusi tergesek oleh komponen – komponen kawat tersebut. Walau memang rasa sakit tersebut terasa hanya 1 minggu saja, tapi aku bertemu lagi dengan rasa sakit itu setelah gigi bagian bawah di pasang kawat pula.
Dulunya aku berekspetasi ingin menggunakan karet kawat berwarna hijau, karena aku suka dengan warna hijau. Tapi ternyata untuk kondisi gigiku ini tidak digunakan karet, tapi digunakan pir untuk dapat mendorong gigi yang gingsul. Begitu tersiksa menggunakan kawat gigi, aku tidak diperbolehkan memakan jagung secara langsung (tanpa diserut), padahal aku sangat menyukai jagung bakar. Selain itu makanan sering sekali menyangkut di gigi. Jenis sikatnya pun dulu ada 3 macam. Jadi untuk sikat gigi saja membutuhkan waktu yang lama padahal tidak bisa 100% bersih.
Fakta dari pemakaian kawat gigi, semakin lama kamu memakai kawat gigi, maka semakin banyak pula gigi berlubangmu setelah dilepas nanti. Begitu shocknya aku ternyata gigi lobangku ada 6 lebih setelah dicopot kawatnya. Dan lagi yang perlu dipikirkan sebelum anda berkonsultasi pemasangan kawat pada dokter gigi, harga di pemasangan tidak include dengan harga retainer. Retainer adalah kawat gigi yang bisa dipasang dan dicopot. Retainer umumnya ditarik biaya Rp 400.000 untuk satu sisi. Jadi biaya untuk retainernya adalah Rp 800.000.
Akan tetapi satu hal yang penting, gigi yang rapi tentu membuat kita lebih percaya diri, walaupun demi mendapatkan gigi yang rapi tersebut, rasa sakitnya luar biasa. No Pain  No Gain.

Before - After

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar