Rabu, 29 Mei 2013

Struktur Baja Terop dengan Bentang Lebar?

Di suatu hari Sabtu seharusnya hari itu menjadi hari nganggur untukku, tiba – tiba bosku menyuruh para estimator untuk pergi ke salah satu gereja di Surabaya Selatan, bukan untuk beribadah di Gereja tersebut, atau mengikuti suatu acara bakti social, tapi untuk melihat struktur terop. Memang saat itu masih hingar bingar Paskah, jadi tentunya banyak Gereja yang menyambut event tersebut dengan meriah,  bahkan untuk mengatasi jumlah jemaat yang membludak saat hari Paskah, maka gereja tersebut mendirikan terop dengan bentang yang cukup lebar, aku tidak mengukurnya sih, tapi sekitar 15 – 20 meter, dan memang terop di sini berbeda dengan terop berwarna hijau yang biasanya digunakan untuk hajatan pernikahan di kampung – kampung, konsep terop ini seperti bangunan baja, ada ikatan angin dinding, ikatan angin atap, gording, rafter, bahkan sambungannya juga cukup unik. Berikut adalah macam – macam fotonya:















Baja yang digunakan bukan seperti profil biasa, material ini konsepnya seperti tripot, jadi bisa ditarik untuk memanjangkan, tapi juga bisa dipendekkan untuk menghemat tempat penyimpanan. Saat kami bertanya pada pihak gereja, ternyata terop ini adalah sumbangan dari salah satu jemaat. Akan tetapi pihak gereja yang kami tanyai saat itu tidak mengerti secara jelas siapa yang menyumbang, akhirnya kami diberikan contact panitia acara tersebut, tapi tidak ada kelanjutannya lagi secara jelas sampai sekarang.

Rabu, 22 Mei 2013

Wanna Back to The Past? - Part 1-


Kembali ke pertama kali aku masuk kerja, beberapa hari awal nganggur atau menghitung struktur kecil – kecil, aku memerlukan banyak waktu untuk mengerti SAP lagi. Padahal baru SAP lho, belum Etabs. Perhitungan volume pertamaku adalah menghitung volume blok C Pergudangan, oleh karena jenis gudangnya ada yang 12 meter dan 15 meter, maka aku dan Ce Dewi bagi tugas, aku menghitung gudang dengan bentang 12 meter dimana ada 21 gudang di blok C dan 5 gudang di blok B, sedangkan Ce Dewi menghitung yang bentang 15 meter di blok B.

Oleh karena baru pertama kali menghitung volume proyek nyata dan belum berpengalaman, aku menghitung dengan sangat halus, menggunakan bentang bersih, seperti pada mata kuliah Estimasi Biaya dan Perencanaan dan Pengendalian Biaya Proyek. Hal tersebut yang membuat aku cukup mumet dan pusing dalam menghitung, aku juga belum terbiasa dengan menulis di quantity sheet ala kantorku, karena tidak ada kolom unit, hanya ada kolom volume, berbeda dengan quantity sheet saat kuliah dulu. Hal tersebut sempat membuat perhitungan cukup membingungkan, tapi aku berhasil menghitungnya walau ada pekerjaan – pekerjaan tertentu seperti pekerjaan finishing yang belum pernah diajarkan di kuliah dulunya sehingga tidak bisa membayangkan pula pekerjaan apa saja yang kurang dan yang butuh dilaksanakan di proyek nanti.

Begitu shocknya aku saat tiba – tiba sang PM mengatakan bahwa proyek blok C dan blok B ini merupakan tender terpisah, itu artinya, perhitungannya juga terpisah. Aku pun sempat kelabakan karena aku menghandle 5 unit gudang di blok B juga dimana bentangnya 12 meter. Alhasil aku harus mereview ulang perhitunganku yang awal – awal, oleh karena aku masih belum mempunyai pola khusus dalam menulis di quantity sheet milik perusahaanku, aku pun kebingunan sendiri dengan tulisan hasil hitunganku. Bahkan beberapa aku hitung ulang sambil berharap jangan blok C yang menang tender. Aku pun menyerahkan hasil hitunganku dengan tidak percaya diri. Saat pengumuman hasil tender keluar, lebih shock lagi ternyata blok B tidak menang tender, justru blok C yang menang tender. Semakin takut dan tidak yakin dengan hitungan sendiri, sejak saat itu aku pun belajar untuk bisa mengerti bagaimana format penulisan di quantity sheet yang baik dan tidak melakukan perhitungan volume terlalu halus.
Karena merasa bersalah, aku pun meminta maaf pada Pak PM, yaitu Pak Jemmi, dan memang benar ada yang miss di hitungan atap dan aku tidak menghitung kolom praktis. Sungguh sangat merasa bersalah, walaupun dimaklumi oleh PM, tetap saja hati tidak enak.

Kemarin diadakan rapat antar PM dan estimator. Selama ini di kantorku tidak ada pembagian yang jelas struktur organisasi antara PM dan estimator, jadi semua PM bisa meminta tolong estimator mana pun. Sejak rapat kemarin dijelaskan pembagian tugasnya, 1 PM bekerja sama dengan 1 estimator dan aku dipartnerkan dengan Pak Jemmi, itu artinya aku juga memantau perkembangan proyek pergudangan yang aku hitung volumenya tersebut. Semakin takut saja kalau proyek tersebut bakal mengalami kerugian.

Sebenarnya dalam bekerja di kontraktor ataupun konsultan di lingkup Teknik Sipil ini, kemampuan otak bukanlah syarat mutlak tapi juga dibutuhkan keberanian dengan apa yang kita hitungkan. Keberanian tersebut yang membuat kita lebih percaya diri untuk menghadapi problem lain yang lebih berat di depan.

Kamis, 16 Mei 2013

Belajar dari Trik


Ini hari ketigaku belajar Toefl di kantor dan sama seperti sebelumnya, cuma bertahan 2 jam dan mata serta otak sudah capek, padahal hari ini aku belajar trik – triknya saja dari web yang berbahasa Indonesia.

Tapi tidak dapat dipungkiri, dalam belajar apapun memang trik yang membantu kita dalam meraih nilai yang lebih baik daripada seharusnya, seperti ujian di Teknik Sipil, yang utama adalah kamu dapat selesai mengerjakan soal. Dosen tidak akan memberikan nilai lebih untuk tampilan dari kertas jawabanmu yang rapi, tapi juga jangan terlalu jorok juga.

Mengerjakan soal struktur yang memaksa kita menggambar ulang soal seperti mata kuliah statika, fisika dasar, analisa struktur, mekanika tanah, hidrolika, mekanika bahan, bahkan menggambar teknik sebaiknya membawa klip kertas, pensil dan penghapus. Untuk dapat menghemat waktu dan tetap menampilkan gambar yang rapi dan presisi, gunakan ilmu yang kita dapatkan saat TK dulu yaitu menjiplak. Jadi kamu tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mengukur lagi, karena pada umumnya gambar di soal ujian sudah digambar dengan rapi dan presisi oleh dosen – dosen tersebut.

Dalam mengerjakan soal yang membutuhkan waktu lama karena banyak yang harus dikerjakan, gunakan cara belajar dengan menelusuri BSBC dan menelusuri hasil angka dari ujian para senior jenius. Umumnya cara ini digunakan untuk mengerjakan soal ujian Desain Struktur Baja dan Beton. Hal tersebut akan sangat menghemat waktu kita untuk memahami BSBC saat hari H ujian, memang sih cara ini tidak membuat kita paham dengan materi yang diajarkan, tapi dapat meraih nilai tinggi tanpa mempunyai otak secemerlang Felix Suwadji. Dan lagi dalam pengerjaan, setiap detik sangatlah berharga, maka dari itu saran saya, tulisan tidak perlu rapi – rapi, jika tidak sangat urgent, tidak perlu menggunakan tip ex, cukup dicoret saja.

Dalam mengerjakan soal – soal penjurusan konstruksi yang lebih ke penggombesan, selain dibutuhkan kemampuan menggombes, juga dibutuhkan pengetahuan dasar mengenai dasar ilmu yang diujikan, jadi jangan sampai sama sekali tidak belajar walau saat ujian diperbolehkan open book. Setidaknya bacalah buku, tidak perlu semua, tapi dasar – dasar atau bahkan judul – judul penting yang banyak keluar saja di BSBC. Sehingga dalam mengerjakan tidak membuang waktu untuk mencari lagi mengenai topik tersebut, jika kita sudah mengerti sedikit mengenai topik, kembangkan dengan pengetahuanmu walaupun tidak berhubungan. Misal menghubungkan produktivitas pekerja dengan produktivitas belajar sebagai mahasiswa. Dengan membicarakan pengalaman pribadi,  tentu banyak hal yang dapat kita ceritakan. Dan lagi – lagi, tidak perlu rapi dalam mengerjakan, kunci utama adalah waktu, bila masih ada waktu baru tip ex lah kesalahan – kesalahan tulisan yang kamu coret.

Dan yang terakhir, kenalilah dosenmu, saya sangat menyarankan bagi mahasiswa yang cuma cari nilai, ambillah dosen yang murah nilai. Ilmu bisa kita dapatkan saat belajar dengan teman – teman, tapi sistem penilaian juga berpengaruh sehingga seolah – olah mahasiswa biasa pun bisa mendapatkan nilai setara dengan 10% IPK terbaik semester awal. Dan hal yang paling penting, meskipun ada trik, tetap saja Janganlah Malas !!

Belajar Tetap Saja Membosankan


Oleh karena sudah tidak ada kerjaan di kantor, maka aku membawa buku TOEFL ke kantor untuk belajar di kala senggang, awalnya cukup antusias, apalagi saat mengetahui kiat – kiat dan trik dalam menjawab. Entah mengapa, baru 2 – 3 jam membaca sudah sangatlah bosan. Padahal awalnya kukira belajar di saat sudah lama tidak belajar akan menyenangkan, ternyata sama saja. Menghitung volume lebih menarik dibanding belajar bahasa Inggris kayaknya.

Memang sejak saat masih kecil sampai sudah dewasa begini, bahasa Inggrisku cukup lemah, padahal dulu saat TK, diam – diam ikut ekstrakurikuler Bahasa Inggris tanpa bilang ke orang tua. Sedangkan sekarang malah tidak bisa bahasa Inggris sama sekali.

Berbicara mengenai Toefl, saat SMA pernah ada tes Toefl gratis dari sekolah, gratis dan wajib lebih tepatnya. Semua murid kelas X harus mengikuti tes Toefl ini, tidak ada persiapan karena memang tidak pernah tes sebelumnya. Alhasil saat hasil tes Toefl dibacakan, nilaiku hanya 300an (aku tidak ingat tepatnya berapa) dan aku urutan ke 28 dari 35 siswa di kelasku, padahal kelasku merupakan kelas paling nakal di kelas X, yang jelas bukan murid – murid dengan otak yang sangatlah cemerlang.

Dulunya sangatlah tidak tertarik pada Bahasa Inggris. Tidak tertarik pula oleh Toefl. Tidak tertarik dengan studi lanjut. Tapi setelah bekerja dan memikirkan kehidupan di Indonesia ini bias dibilang tidak bias diharapkan, lama kelamaan lulusan S1 sama dengan lulusan SMA. Bila beberapa puluh tahun lalu, lulusan SMA sudah bisa bekerja dengan gaji standart, sekarang sudah banyak perusahaan yang mencari minimal lulusan S1. Padahal hanya selisih 1 generasi loh. Di sisi lain, melihat banyaknya pengeluaran saat di rumah, tidak bisa membayangkan, gaji yang awalnya kulihat cukup besar bagi mata seorang anak yang baru saja mentas dari jenjang pendidikan, lama kelamaan pendapatan tersebut akan terlihat sangatlah menyesakkan hati.

Hal itulah yang membuatku ingin tertarik apply beasiswa ke Taiwan, karena aku bisa mengukir masa depan tanpa pengeluaran yang banyak, yang dibutuhkan adalah kemauan dan kerja keras di awal. Di sisi lain, ingin merasakan hidup sendiri, selama 22 tahun ini bergantung pada orang tua dan cece, serasa tidak pernah mengambil keputusan sendiri, padahal usiaku sudah bisa dibilang usia untuk mulai mengambil keputusan. Kerap kali aku salah mengambil keputusan, tapi bila terus – terusan bergantung, kapan aku bisa beranjak dewasa?
Semoga keputusanku kali ini tidak salah lagi. 

Jumat, 10 Mei 2013

A Lot of Problem for a Better Me


Minggu ini benar – benar sangat luar biasa, setelah pekerjaan rampung, justru banyak timbul masalah. Dari masalah keuangan yang jor – jor an, masalah ban mobil gembos, dan beberapa masalah lainnya. Cukup membuat aku kalut dan panic. Setelah melihat ke belakang, dibalik masalah itu, walau memang terlihat banyak masalah dan mengalami kekalutan, tapi aku belajar untuk bersabar, mencoba tenang dan aku bias menemukan siapa yang sahabat siapa yang hanya teman biasa.
Entah mengapa kesialan terus melanda diriku minggu ini. Tapi banyak hal yang perlu disyukuri, Tuhan tidak serta merta memberikanku masalah saat banyak kerjaan di kantor, begitu pula saat kerjaan banyak di kantor, tidak ada masalah runyam yang timbul. Aku yang mudah stress pun menyadari bahwa saat bekerja dan saat kuliah berbeda, bila dulu kita mengalami masalah, pekerjaan tugas masih ada partner yang bisa mengatasinya, saling menopang. Saat bekerja, memang estimator di kantor ini ada 3 orang, salah satunya aku, tapi satu pekerjaan yang menangani juga satu orang itu saja. Tentunya akan membuat kekalutan luar biasa bila masalah pribadi dan pekerjaan kantor dating bersamaan. Apalagi bulan lalu 3 dari 4 PM di kantor memberiku tugas menghitung struktur semua, Ko Bonny memberikan tugas hitungan struktur Gudang dengan beban hidup 750kg/m2, Pak Melky memberikan tugas menghitung struktur atap pabrik dengan desain gambar mengikuti arsitek dimana atapnya melengkung dan rangka batangnya berbentuk segitiga 3 dimensi, dan Pak Jemmi memberikan tugas menghitung pondasi silo dengan ada pengaruh beban gempa. Saat di kuliah, aku tidak pernah mengalami problem perhitungan struktur seperti itu, di samping itu, aku tidak cukup mengerti dengan matakuliah Desain Struktur Baja. Bekerja di kantor ini, walau memang gajinya lebih kecil dibanding rekan yang lain, tapi cukup ilmu yang didapat, para bos ramah dan baik. Para PM mau mengajari serasa asistensi dengan dosen saja. Orang kantor yang cukup welcome.
Kerjaan dan masalah 2 bulan ini biarlah bisa menjadi awal dari pembelajaranku saat aku studi lanjut di Taiwan nanti. Karena tujuan utamaku studi lanjut di Taiwan, bukan karena gelarnya, bukan pula untuk ilmunya, tapi untuk menumbuhkan kedewasaanku dalam mengambil keputusan. Karena aku merasa, dalam memecahkan masalah orang lain, aku cukup mampu tapi untuk memecahkan masalahku sendiri aku tidak bisa. Belajar untuk tetap menjadi orang sabar tapi tidak mau dipermainkan oleh orang lain, belajar untuk tidak panik.
Kadang aku bersungut – sungut pada Tuhan, mengapa permasalahan selalu muncul. Aku yang sesungguhnya tidak sesempurna yang dilihat orang lain, tapi aku tersadar, seandainya Tuhan tidak meletakkanku sebagai Tabita Tania ini, aku tidaklah menjadi seorang yang kuat. Keinginanku sebenarnya hanyalah ingin keluargaku bisa bahagia. Segala kesalahan yang pernah aku buat, sangat membuatku menyesal bahkan membenci diriku sendiri, tapi aku percaya Tuhan pasti memiliki tujuan lain dari itu semua.

Kamis, 09 Mei 2013

Prom Night


Beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja menemukan DVD Prom Night SMA ku. Saat SMA aku memang mengikuti Prom Night karena menurutku, kapan lagi bisa berkumpul dengan teman – teman SMA, walau tidak semua temanku mengikuti prom night, tapi aku tetap saja ikut, walaupun harganya cukup mahal, sekitar Rp 300.000,-. Memang acaranya dihelat di hotel berbintang, tapi aku merasa apa yang didapatkan tidaklah sebanding dengan apa yang dibayarkan, karena acara tersebut seakan – akan seperti acara milik oknum – oknum tertentu, dan beberapa orang diluar oknum tersebut (kami) hanya seakan – akan digunakan sebagai penonton yang ingin melihat konser. Makanannya pun tidak terlalu istimewa. Hal ini yang membuat aku menyadari, mengapa aku lebih menyukai kehidupan saat kuliah dibanding kehidupan saat SMA. Dimana, walau memang ada Gap di kuliahpun, oleh karena teknik sipil adalah jurusan yang cukup sulit untuk kita lalui bila kita orang yang egois dan belajar sendiri, jadi dibutuhkan kerja sama tentunya saat ujian dating satu demi satu. Tidak ada gap si kaya dan si miskin, si popular dengan si alim, si pintar dan si bodoh. Memang kadang ada gap tersebut, tapi semakin dewasa seseorang tentunya dapat mengerti bahwa gap – gap tersebut tidak ada gunanya sama sekali. 

4,5 Tahunku Bersama Bracket


Setelah sebulan penuh kerjaan akhirnya ada waktu senggang juga. Sebenarnya waktu senggang di kantor ini mau aku gunakan untuk mencari info tentang les Toefl dan Liburan ke Bali, tapi laptopku tidak bias menyambung ke wifi dan iPhoneku kabel chargernya rusak, jadi demi baterai bisa bertahan lama, maka tidak aku sambungkan internet.
2 hari yang lalu tepatnya tanggal 6 Mei, aku baru saja lepas kawat gigi, selama ini kayaknya memang aku berhubungan erat dengan kawat gigi.  Aku pertama pakai kawat gigi sekitar bulan November 2008, dulunya aku sangat tidak percaya diri dengan gigiku, gigi yang bawah lebih maju ke depan serta berantakan, sedangkan gigi atasku sudah gingsul, tidak bagus lagi gingsulnya. Selain itu setiap ada pemeriksaan kesehatan gigi di UKS aku paling benci, karena setiap kali dokter giginya geleng – geleng mengenai gigiku yang banyak lubangnya. Selalu setiap tahunnya, gigiku yang memiliki lobang paling banyak di kelas.
Saking tidak PD nya dengan gigi sendiri, kerap kali aku tidak berani foto tersenyum dengan menampakkan gigi. Sebenarnya sejak SD, sudah langganan ke dokter gigi, kalau nggak lubang ya dicabut. Dulu biaya untuk kawat gigi hanya Rp 400.000,- tapi kalau tidak salah dokternya bilang, belum saatnya menggunakan kawat gigi. Jadi aku baru memakai kawat saat kelas XII SMA dan harganya sudah melonjak tinggi menjadi Rp 8.000.000,-.
Sebelum dipasangkan kawat, gigi tidak boleh ada yang lubang, gigi berlubangku yang awalnya ada belasan, langsung ditangani oleh drg. Yenny Chandra sehingga bim salabim, tidak gigi berlubang lagi. Saat pemeriksaan di UKS pun rasanya senang sekali tidak mendapat surat mengenai gigi berlubang dari UKS. Setelah penambalan gigi, dilakukan pencabutan gigi yang dirasa mengganggu, gigiku saat itu dicabut 2 buah di bagian bawah. Gigi geraham kalau tidak salah. Metode dokter gigi sudah cukup canggih, jika dulu aku harus menahan sakit saat gigi dicabut, sekarang ak diberi sejenis obat bius sehingga bagian gigi yang mau dicabut menjadi mati rasa.
Pemasangan kawat gigi dimulai dengan memasang bagian atas dulu, saat di lokasi, tidak terlalu sakit, begitu shocknya saat keesokan pagi terbangun dari tidur malam, gigi nyeri luar biasa, tidak semangat makan maupun bicara. Mulut terasa penuh dan terasa sariawan karena gusi tergesek oleh komponen – komponen kawat tersebut. Walau memang rasa sakit tersebut terasa hanya 1 minggu saja, tapi aku bertemu lagi dengan rasa sakit itu setelah gigi bagian bawah di pasang kawat pula.
Dulunya aku berekspetasi ingin menggunakan karet kawat berwarna hijau, karena aku suka dengan warna hijau. Tapi ternyata untuk kondisi gigiku ini tidak digunakan karet, tapi digunakan pir untuk dapat mendorong gigi yang gingsul. Begitu tersiksa menggunakan kawat gigi, aku tidak diperbolehkan memakan jagung secara langsung (tanpa diserut), padahal aku sangat menyukai jagung bakar. Selain itu makanan sering sekali menyangkut di gigi. Jenis sikatnya pun dulu ada 3 macam. Jadi untuk sikat gigi saja membutuhkan waktu yang lama padahal tidak bisa 100% bersih.
Fakta dari pemakaian kawat gigi, semakin lama kamu memakai kawat gigi, maka semakin banyak pula gigi berlubangmu setelah dilepas nanti. Begitu shocknya aku ternyata gigi lobangku ada 6 lebih setelah dicopot kawatnya. Dan lagi yang perlu dipikirkan sebelum anda berkonsultasi pemasangan kawat pada dokter gigi, harga di pemasangan tidak include dengan harga retainer. Retainer adalah kawat gigi yang bisa dipasang dan dicopot. Retainer umumnya ditarik biaya Rp 400.000 untuk satu sisi. Jadi biaya untuk retainernya adalah Rp 800.000.
Akan tetapi satu hal yang penting, gigi yang rapi tentu membuat kita lebih percaya diri, walaupun demi mendapatkan gigi yang rapi tersebut, rasa sakitnya luar biasa. No Pain  No Gain.

Before - After