Jumat, 05 Juli 2013

My Birthday

Sudah lama tidak menulis blog. Sebenarnya sebelumnya ada kerjaan di kantor tapi pekerjaan sudah kelar dan jam kantor masih ada 35 menit. Nanggung bila digunakan untuk belajar Toefl, jadi aku refreshing menulis blog saja. 35 menit biasanya bisa jadi 1 – 2 tulisan.

Minggu lalu adalah ulang tahunku yang ke – 22. Tidak disangka usiaku sudah 22 tahun, karena selama ini di keluarga sudah kerasa paling kecil. Dulu bayanganku usia 20an sudah lah mandiri, tapi ternyata tidak juga. Jika mengingat masa kecil, sangat mengidam – idamkan hari ulang tahun, bahkan kerap kali menghitung countdown sejak sebulan sebelumnya. Sedangkan semakin dewasa kita, akan merasa ulang tahun bukan suatu hal yang wah. Walaupun saat hari H aku akan tersadar bahwa hari yang sama akan dating 365 hari lagi.

Saat kecil ultahku pernah beberapa kali dirayakan di sekolah. Entah jaman sekarang apakah kalau ada yang ulang tahun, tetap dirayakan di sekolah. Teringat saat kelas 1 SD, ulang tahunku dirayakan di kelas bersama teman – teman. Padahal beberapa bulan sebelumnya aku kecelakaan karena bermain api kompor yang ada di dapur, alhasil tubuhku saat itu terbakar dari ketiak sebelah kanan dan sedikit mengenai wajah. Sejak saat itu aku takut dengan api baik dari korek api maupun dari kompor. Padahal sebelumnya sering ikut nimbrung di dapur sambil mengupas bawang. Kalau sekarang masih sedikit trauma dengan api tapi hanya api dari korek api sih, jadi tidak berani menyalakan korek api dari korek api gas. Tapi aku bersyukur semua teman – teman saat itu juga terlihat gembira saat ultahku dirayakan di kelas. Walau saat perpisahan tahunan, aku yang biasanya terpilih untuk menari tradisional, terpaksa absen oleh karena luka bakarku tersebut.

Kelas 4 SD mamaku mau berangkat ke Amerika, jadi ulang tahunku dirayakan di KFC (biasanya selama 3 tahun tidak pernah dirayakan). Aku mengundang teman-teman SD, ceceku juga mengundang beberapa temannya. Sepulang dari acara di KFC, aku diajak bermain timezone oleh papa dan mamaku, saat itu aku cukup lihai bermain game koin yang dijatuhkan, beberapa kali dapat jackpot, aku menukar tiket dengan boneka kodok seukuran 15 cm yang kuberi nama froggie.

Hari – hari ulang tahunku berikutnya tidak begitu berkesan, karena memang dirayakan bersama keluarga besar sih karena memang hari ulang tahunku hanya selisih 2 hari dengan hari ulang tahun nyaung (opa) ku, sampai dengan nyaungku tidak ada saat aku berusia 15 tahun.

Ulang tahun ke 17 aku mengadakan makan – makan biasa saja dengan teman – temanku. Tidak terlalu special karena makanan seharusnya keluar bergantian, tapi malah dikeluarkan bertubi – tubi oleh pihak restoran.

Usia 19 tahun, ulang tahunku disambut oleh teman-teman sipil 09 dengan datang ke rumah dan kami sama – sama menuju UKP untuk mendengarkan pengumuman keanggotaan fungsionaris Himasitra, jujur sebenarnya agak kecewa karena aku tidak bisa masuk departemen yang aku harapkan.

Usia 20 tahun bisa jadi acara paling gila, karena aku ikut BBQ di rumah Panita, dan aku tidak menyangka ternyata teman – teman menyadari kalau saat itu ulang tahunku. Awalnya diberi kue tart dan tiup lilin, tapi ujung – ujung nya aku disiram fanta sehingga terjadi insiden kejar – kejaran di perumahan antara aku, Gok, Lucky, Ivan Mondi, Leman, dll (tidak bisa disebutkan satu per satu). Tapi aku memutuskan mengejar Gok karena menurutku dia yang larinya paling lambat. Setelah mengejar cukup jauh, kami ber 2 sama – sama kecapaian dan tersesat alhasil dijemput motor oleh teman – teman. Sejak saat itu aku seakan – akan dinobatkan sebagai Koordinator Keamanan Civil Camp yang berikutnya.

Usia 21 tahun aku mendapatkan hadiah yang tidak terduga dari ceceku. Sebuah blackberry. Aku sebelumnya membenci BB, dan aku tidak masalah sih punya BB asal dikasih. Tapi aku sungguh tidak pernah menyangka aku diberi kado BB.

Usia 22 tahun aku sudah tidak tertarik menunggu sampai pukul 00.00, jadi aku memutuskan mematikan wifi dan tidur jam setengah 12 karena memang saat itu cukup ngantuk. Aku tidak berpikir akan diberi surprise oleh teman – teman. Sepulang dari les Toefl, aku menemani teman – teman untuk makan malam di kwetiau Asean, dan tidak menyangka ternyata ada Icha, Tephen dan Bebek yang ikut datang membawa kue tart berbentuk Shaun The Sheep. Aku memang suka sekali dengan Shaun The Sheep.


Aku bersyukur karena selama 22 tahun ini sudah mengenal banyak teman – teman bahkan sahabat yang luar biasa. Aku bisa bertumbuh menjadi lebih baik dan belajar banyak hal saat di sipil. Kepercayaan diriku menjadi tumbuh, karena saat kecil aku adalah anak yang rendah diri dan penakut. I hope tomorrow will be better than today.

My Office Life

Bisa dibilang aku terlambat memperkenalkan orang – orang di kantorku. Sebenarnya aku tidak berencana bekerja di kantor ini, saat semester 7 dan disibukkan oleh skripsi, aku mendapat tawaran menjadi estimator dari seorang adik kelas angkatan 2011 namanya Lydia, katanya ada perusahaan yang mencari estimator, aku pun ingin tahu, apakah bisa bekerja sambil menjalankan kuliah. Aku pun membuka website perusahaan tersebut dan ternyata perusahaan tersebut adalah kontraktor baja di daerah Kendangsari. Aku tertarik karena lowongan yang kosong adalah estimator dimana aku memang merasa paling bisa di estimasi dan menghitung volume, walau aku agak lupa bagaimana mengestimasi bangunan baja. Yang kedua karena lokasinya relative dekat dengan rumahku yaitu 6,5km. Jadi aku iseng mengirim email dan bertanya apakah bisa disambi kuliah sambil aku meninggalkan nomer handphoneku agar bisa dihubungi.

Tapi karena tidak ada tanggapan dan semakin sibuk dan banyaknya hal yang harus aku kerjakan di skripsi aku pun lupa aku pernah mengirim email ke perusahaan tersebut. Awal bulan Desember saat hendak makan siang bersama Icha, di depan stand soto uduk, aku tiba – tiba ditelepon dari nomer tak dikenal. Oleh karena suasana kantin P rame sekali, aku pun tidak mengerti siapa yang menelepon dan orang tersebut mengatakan apa. Ternyata yang meneleponku adalah dari perusahaan yang aku kirim email kapan hari, aku langsung disuruh wawancara keesokan harinya sambil membawa CV, surat lamaran dan transkrip terbaru. Cukup shock, tapi aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, aku pun segera melengkapi semua kelengkapan dan keesokan harinya aku ke kantor tersebut, sempat sedikit terlambat beberapa menit karena tersesat karena memang kantor tersebut tidak ada tulisan nama kantornya dan nomernya berada di dalam.

Saat datang, menunggu cukup lama baru disuruh ke atas untuk tes, tes yang diberikan meliputi perhitungan logika yang harus didasari dengan pengetahuan sipil seperti misalnya, ada ruangan sekian m2, keramik berapa m2 yang harus saya pesan? Ada sekitar 10 pertanyaan logika. Lalu ada perhitungan volume pondasi setempat dan pondasi batu kali, yang dihitung adalah volume batu, beton, bekisting, dan tulangan. Walau terlihat simple, tapi dibutuhkan kreatifitas matematika pula. Oleh karena aku memang suka hal yang berbau matematika 3 dimensi, aku pun berhasil menjawab soal tersebut dengan indah. Berikutnya sembari hasil hitunganku diperiksa, aku disodori soal lagi yaitu menghitung penjumlahan 4-5 bilangan yang berisi 13-14 digit dengan kalkulator 10 digit, ada 4 soal dan waktu mengerjakannya 10 menit. Oleh karena aku suka matematika, aku pun menyelesaikan soal tersebut dengan indah. Setelah itu aku wawancara dengan salah satu bos yaitu Pak Himawan, ternyata beliau adalah partner tugas baja dan betonnya Bu Ratna serta partner TA nya Pak Hurijanto. Saat dilihat hasil tesku ternyata aku ada 2 kesalahan yaitu di perhitungan keramik tadi karena aku tidak mengerti dengan satuan beli keramik dan menghitung bunga bank. Tapi overall cukup baik. Saat itu aku jujur tidak siap mengenai salary berapa yang aku inginkan, jadi aku shock saat tiba – tiba ditanyai mengenai salary. Aku pun memasang tarif rendah saat itu karena tidak tahu pasaran salary nya. Setelah itu aku dirujuk untuk melakukan psikotest di Ubaya. Saat psikotest cukup asyik karena seperti test IQ.

Tak lama berselang setelah psikotest, aku pun diterima di perusahaan tersebut, senang awalnya, karena aku merupakan salah satu lulusan 3,5 tahun yang mendapat pekerjaan terlebih dahulu. Saat datang lagi ke sana aku pun bilang bahwa sedang persiapan siding dan revisi jadi baru bisa mulai bekerja tanggal 4 Februari (sebenarnya aku berlibur dengan teman-teman ke Bali pada akhir Januari sampai awal Februari), awalnya seingatku, kami pulang dari Bali tanggal 3 Februari, ternyata aku salah tanggal karena mereka mendapat harga tiket murah tanggal 5 Februari, jadi kami dipesankan pulang tanggal 5 Februari. Aku sudah terlanjur bilang mulai masuk tanggal 4. Awalnya aku mau pulang sendiri tanggal 4 nya tapi tiketnya cukup mahal, akhirnya aku beranikan diri untuk mendatangi kantor dan meminta izin baru masuk tanggal 6 dan syukurlah, permintaanku dikabulkan.

Awal mulai bekerja, aku tidak mendapat pekerjaan sama sekali. Aku pun cukup canggung karena orang – orang kantor sudah berusia semua. Ada beberapa yang masih muda, tapi selisihnya denganku cukup jauh. Dan yang aku merasa tidak nyaman adalah adanya gap dalam kantor, ya aku menyadari dimanapun aku berada pasti akan ada gap, tapi aku melihat kehidupan kampus lebih menyenangkan karena walau memang ada gap tapi gap tersebut tidak saling menjatuhkan.

Sekitar 1 bulan setelah bekerja, aku sudah mulai banyak diserahi kerjaan. Aku cukup kagok dengan menggunakan SAP, menghitung simple saja membutuhkan waktu seharian, aku pun bingung-bingung sendiri saat disuruh menghitung volume. Kalau menurutku itu hanya mengenai kebiasaan saja. Saat gajianpun ternyata aku diberi sedikit lebih banyak salary dari yang aku minta tapi tetap saja lebih rendah dibanding rekanku yang lain. Sempat berpikir untuk pindah kerjaan, tapi aku memutuskan bertahan karena sebenarnya para PM yaitu Pak Melky, Ko Bagio, Ko Bonny dan Pak Jemmi orangnya baik-baik, ke empat bos pun seperti Pak Haryanto, Pak Himawan, Pak Sandjaja dan Pak Singgih baik dan tidak neko-neko. Peraturan tidak terlalu mengekang, makanan cukup murah, dan lokasi yang cukup dekat dengan rumah. Sempat ada beberapa tawaran pekerjaan yang salarynya lebih tinggi tapi aku tolak karena menurutku aku masih butuh belajar, sedangkan di tawaran kerja tersebut, aku sudah diserahi tanggungjawab yang lebih tinggi. Dan lagi aku masik optimis aku akan studi lanjut di Taiwan, jadi waktuku di Surabaya tidak akan lama.


Sebenarnya dimana pun kita ditempatkan, belajarlah untuk selalu bersyukur dan tidak menyesali pilihan kita. Jangan lihat ke atas, tapi lihatlah ke bawah. Mengambil hikmah positif dari yang kita pilih.

Sabtu, 15 Juni 2013

Antara Kewajiban dengan Pengaturan Waktu

Sudah lama sekali rasanya tidak menulis blog, karena aku baru saja menerima tawaran kerjaan freelance menghitung volume serta membuat RAB dari 2 client berturut-turut. 

Yang pertama adalah temannya ceceku yang membuka usaha kontraktor tapi dia tidak ada background teknik sipil, jadi untuk mengajukan penawaran, dia meminta bantuanku untuk membuatkan RAB rumah type 36 serta hanya diberi waktu 2 hari samai pekerjaan RAB nya rampung. Cukup gila sebenarnya, karena aku yang saat itu baru saja pulang dari Bali badan sudah cukup capek untuk melakukan perkerjaan, 2 malam pun aku lembur sampai pk 02.00 subuh, dan akhirnya selesai juga walau dari pihak client tidak member spek dan harga material serta upahnya. Alhasil pekerjaan selesai tapi dengan harga yang tinggi karena aku tidak tahu jadi speknya aku beri spek yang biasa digunakan di kantor yang notabene bukan material murahan. Rumah type 36 pun harganya menjadi Rp 2.500.000 per m2. Pekerjaan yang awalnya aku kira selesai, malah lebih lama di revisi harganya. Hamper semua spek material saat itu aku ganti dengan barang murahan yang harganya aku dapatkan dari internet. Memang susah bila kita menghitung tanpa mengetahui speknya. Dari pekerjaan pertama ini aku jadi mengerti bahwa saat kita menentukan spek, juga harus memperhatikan proyek apa yang kita hitung.

Proyek kedua datang sekitar 1-2 hari dari seorang temanku, Liske, karena dia tidak biasa membuatkan RAB, jadi aku dikenalkan dengan client keduaku yaitu Bu Yulia, proyeknya juga sama yaitu perumahan. Tapi yang dihitung adalah 2 rumah di wilayah Bali, awalnya Bu Yulia bertanya berapa lama waktu yang digunakan untuk menghitungnya? Aku pun menjawab saya lihat gambarnya dulu bu, baru saya putuskan berapa hari, tapi Bu Yulia tidak mau menunjukkan gambarnya, dia hanya menyebutkan luasnya, 198m2 dan 147m2 maka aku bertanya juga apakah speknya sudah jelas, katanya spek sudah jelas. Jadi aku mematok waktu 1 minggu untuk menghitung sampai RABnya. Baru saat itu gambar dikirim, begitu shocknya saat aku melihat gambarnya ada 60an halaman lebih. Dan detailnya sangat rumit seperti bangunan vila. Untuk mengeprint gambarnya saja butuh waktu semalaman. Memang butuh untuk mengeprint gambar agar lebih enak dan cepat dalam menghitung serta memberikan tanda pada berbagai jenis tipe balok, kolom, pondasi, dll. Untuk mempelajari gambarnya saja aku membutuhkan waktu 3 hari.  Untungnya saat itu ada 1 tanggal merah sehingga aku bias tidur lebih subuh dari hari biasa. Aku dituntut untuk menghitung extra express dalam proyek ini. Tiap balok, kolom, tie beam, pondasi aku identifikasi dulu rumus-rumus volume beton, berat tulangan, jumlah sengkang dan bekistingnya. Sehingga nanti tinggal dikali dengan panjangnya saja sudah keluar semua hasilnya. Karena memang pada kasus ini jenis balok, kolom, tie beam dan pondasinya unda undi dengan jenis proyek hotel yang aku gunakan untuk proyek TA ku. Dan bayangkan ada 2 perumahan yang harus aku hitung. Terbukti memang caraku tersebut cukup express, hanya dalam waktu 1 hari aku bisa mengeluarkan nilai volume dari beton, bekisting dan tulangan dari 2 proyek tersebut. Walau memang ujung-ujungnya banyak revisi, tapi pekerjaan tersebut bisa kelar aku tidak pernah menyangkanya, saat ngeprint 60 halaman tersebut aku memikirkan waktu seminggu sudah langsung lemas sendiri. Tapi dari situ justru aku semakin belajar menemukan cara baru untuk menghitung cepat.


Memang dalam 2 proyek tersebut pekerjaanku sedikit mengecewakan client, kekecewaan itulah yang disebut pengalaman. Pengalaman untuk bisa mengerti harga, untuk bisa menghitung cepat, untuk bisa membagi waktu, untuk bisa tidak terlalu menjanjikan hal yang muluk-muluk bagi orang lain dan pengalaman untuk dapat menghargai kemampuan kita.

Kamis, 30 Mei 2013

Ditakdirkan untuk Bersekolah di Petra Manyar


Sekolah Petra Manyar merupakan sekolah favorit di Surabaya, aku dan ceceku berasal dari SD Dapena bisa dibilang kami berdua seakan-akan ditakdirkan oleh Tuhan untuk bersekolah di Petra Manyar. Mengapa? Saat selesai kelulusan ceceku bisa dibilang ceceku terlambat untu mendaftar di SMP selain Dapena, karena memang orang tua kami berencana untuk tidak melanjutkan di Dapena, banyak sekali SMP yang cukup favorit dan terkenal yang sudah menutup pendaftarannya, ajaibnya hanya SMP Petra 3 yang masih membuka pendaftaran dan saat itu ternyata sudah hari terakhir pendaftaran, saat jaman ceceku, penerimaan siswa dari luar Petra hanya dilihat dari nilai Danem dan nilai ceceku saat itu benar-benar mepet dengan nilai minimum yang diterima oleh Petra Manyar, saat melihat peringkatnya, ceceku masuk peringkat nomer 2 dari bawah.

Aku saat SD dulu bisa dibilang cukup baik nilainya, walau aku tampak alim di sekolah, tapi aku suka bermain game saat di rumah, belajar matematika hanya 5 menit saja, nilainya sudah diatas 90, bukannya sombong tapi memang di sekolahku siswa siswinya tidak secemerlang di Petra Manyar. Aku saat SD sangat amat menyukai pelajaran IPS, bahkan secara tidak sengaja sudah hafal catatan tanpa harus dipaksa untuk mempelajari dan manghafalnya. Aku saat kelas 6 mendapat peringkat 1 saat itu, jadi aku diberi tawaran keringanan untuk sekolah di SMP Dapena, memang murah sekali biayanya, tapi tetap aku mendaftar di Petra Manyar. Saat SD sebenarnya aku merasa diriku pintar jadi saat H-1 sebelum tes aku malah bermain game, aku dimarahi habis-habisan oleh papa saat itu akhirnya aku ‘terpaksa’ belajar malam harinya. Saat tes ada 3 mata pelajaran yang diujikan yaitu matematika, IPA, dan IPS. IPA dan IPS soalnya digabung jadi 1x tes. Saat matematika aku tidak mengalami kesulitan yang berarti, saat tes kedua, soal IPA yang diujikan terlebih dahulu dan aku benar-benar shock dengan soalnya karena aku sama sekali tidak bisa menjawab, semua jawaban dari 50 soal aku awur, saat melihat soal IPS karena aku menyukai pelajaran IPS aku sangat amat lancar mengerjakannya, aku cukup yakin dengan jawaban soal IPS ku. Saat istirahat aku bertemu dengan juara umum SD Dapena yang juga sainganku sejak kelas 2 SD (tapi aku tidak pernah menang sih), aku cukup malu dengannya. Sejak saat itu benar-benar seperti mendapatkan tamparan keras, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga benar-benar terjadi dalam diriku. Aku sudah siap untuk sekolah di SMP Dapena saat itu.

Saat pengumuman, ada 16 orang dari 100an peserta luar petra yang diterima, dan aku ada di peringkat 3 dari bawah, sungguh luar biasa, aku benar-benar tidak menyangka. Bersekolah di Petra Manyar memang membukakan mata kita bahwa di atas langit masih ada langit, janganlah sombong. Saat SMP aku sudah tidak merasa pintar lagi, aku merasa sebagai siswa biasa-biasa saja bergitu pula berkelanjutan sampai kuliah tapi justru dengan begitu aku lebih memiliki banyak teman dibanding saat SD. Saat aku mulai menyadari bahwa aku hanya siswa biasa-biasa saja aku melihat orang-orang yang pintar dan sombong seperti aku dulunya merasa apa yang kamu banggakan? Piala dan Raport dengan predikat istimewa sudah tidak menarik lagi dan tidak membuat orang lain melihatmu wah. Tapi bila memang kita diberkati dengan nilai yang wah, hendaklah kita bersyukur dan tidak disombongkan, aku merasa lebih dapat surprise saat melihat nilai semester 6 ku dibanding saat aku dulunya dipanggil maju ke depan untuk mendapatkan piala sebagai juara umum ke 2 SD Dapena.


Kegagalan yang membuat kita bangkit, tapi dari kegagalan pula kita tidak menjadi besar kepala.

Kerja Praktek

Memasuki semester akhir, wajib bagi para mahasiswa Teknik Sipil UK Petra untuk melakukan kerja praktek. Awalnya aku berencana untuk magang, tapi karena data dari kantor magang tidak bisa keluar semua, daripada bercapek-capek jadi lebih memutuskan untuk kerja praktek saja. Saat pertengahan semester 6, sebenarnya aku ditawari oleh temanku, mantan divisi Acara P3KMABA yang saat itu menjadi ketua P3KMABA 2012 untuk menjadi Koordinator divisi Acara, sebenarnya aku hanyalah kandidat kelima sebagai koor karena kandidat sebelum-sebelumnya ada yang menolak dan ada yang berhalangan, oleh karena aku dan salah satu kandidat sebelumnya, Celia merasa kasihan dengan ketua P3KMABA, akhirnya kami memutuskan, apapun keputusanku nanti, aku terima coordinator atau tidak, kami tetap sama-sama di divisi Acara P3KMABA. Dan akhirnya aku menolak tawaran tersebut karena aku menyadari beban sebagai coordinator itu berat sekali dan lagi aku harus mempersiapkan KP dan TA serta merampungkan Tugas Beton pula saat itu.

Saat itu sebelumnya belum menemukan proyek untuk KP sampai akhirnya bertemu dengan David di RBM dan ternyata tempat KP nya yang dia peroleh relative dekat dan masih bisa untuk 1 kelompok lagi. Ternyata Project Manager disana juga alumni Sipil Petra angkatan 2004, jadi komunikasinya cukup mudah dan tidak terlalu banyak peraturan di kontraktor tersebut.

Saat kami memulai KP, hotel tersebut sudah mencapai lantai 6, tapi tangganya baru selesai sampai lantai 5 saja, untuk mencapai lantai 6 harus menggunakan tangga monyet, hari pertama sama sekali tidak berani naik tangga monyet, hanya David yang berani, jadi hari pertama KP hanya digunakan untuk melihat-lihat konstruksi yang sudah jadi. Karena menyadari bahwa aku juga harus berani naik sampai lokasi yang masih tahap pembangunan untuk meninjau sebagai proyek Skripsiku juga, aku pun mulai memberanikan diri menaiki tangga monyet pada hari kedua, tapi aku lupa bahwa untuk mencapai lebih tinggi lagi, tidak ada tangga monyet, jadi menggunakan scaffolding untuk dapat meraih lantai yang lebih tinggi. Akan tetapi baru mulai berani naik scaffolding saat hari ketiga.


Proyek Tampak Depan

Passenger Hoist alias Lift Proyek

Ini Dia Tangga Monyet 

Pengecoran di Malam Hari

PIC Penjaga Pompa

Proyek tempat KP ku awalnya tidak memperhatikan keselamatan kerja, tidak ada jarring net untuk keselamatan dan pekerjanya tidak menggunakan helm proyek serta boot. Sebenarnya cukup was-was juga dengan keselamatan saat kerja praktek di proyek ini. Apalagi saat baru selesai mengecor plat lantai, saat itu untuk naik ke lantai berikutnya boro-boro tangga monyet, bahkan scaffolding hanya ada di void-void di lift saja, cukup menegangkan loh naik scaffolding di void lift yang notabene sebenarnya void tersebut lobang sampai lantai bawah tanah dan hanya diberi semacam plat dari triplek untuk berdirinya scaffolding agar orang-orang dapat naik ke lantai selanjutnya.

Pernah juga karena ingin melihat proses pengecoran plat lantai, aku, Anthony dan David berencana untuk pergi ke proyek pkl 20.30, apalagi saat itu aku sebelumnya mengikuti closing panitia P3KMABA, jadi saat closing aku menenteng helm proyek dan meninggalkan acara sebelum acaranya kelar, tapi sebelumnya aku sudah mandi dulu di kos Ratna, aku memang berencana bermalam di kos Ratna saat itu agar tidak merepotkan orang rumah dan lagi keesokan harinya aku ada kelas MKDU.


Begitu apesnya ternyata truk molen tidak kunjung dating sampai pukul 00.30, cukup ngaplo di sana dan kondisinya cukup dingin dan mencekam, apalagi aku melewatkan makan prasmanan gratisan saat closing P3KMABA, andaikan tahu kalau truk molen baru datang jam segitu, aku lebih baik mengikuti acara sampai selesai dan bisa makan malam. Saat truk molen dating, tentunya kami tidak melewatkan melihat prosesi pengecoran dengan menggunakan pompa kodok. Ternyata ada juga loh PIC penjaga pipa pompa kodok, aku kira awalnya PIC sejenis hanya ada di divisi Perlengkapan sebagai PIC lampu AVT. Walaupun aktivitas ini cukup menguras kemampuan mata untuk tetap terjaga, tapi kami menikmatinya dan baru pulang pk 03.30, sampai di kost teringat bahwa besok ada kelas pk 07.30, aku langsung lepas soflen dan cuci muka lalu tidur. Saat bangun baru teringat bahwa aku tidak bawa baju ganti, jadinya tetap menggunakan baju panitia P3KMABA dan ternyata ada 1 orang yang menyadari bahwa aku belum ganti baju sejak kemarin.

Rabu, 29 Mei 2013

Admin Bertopeng Saatnya Membuka Topeng

Teringat masa-masa awal pendaftaran fungsionaris, aku ngebet dan kepingin banget masuk department Bakat Minat, apalagi kakak-kakak kelas angkatan 2007 juga mengatakan mukaku Bakmi banget. Entah apa juga yang membuatku ingin masuk department tersebut, tapi yang pasti aku paling tertarik di department tersebut. Saat mengisi form pendaftaran, di kolom department yang diminati ada 2 kolom kosong, aku kira awalnya harus mengisi keduanya, maka dari itu jelas pilihan pertama aku memilih Department Bakat Minat, pilihan kedua benar-benar tidak mengerti mau ambil department apa. karena menurutku tidak ada yang cocok. Entah bagaimana juga aku menuliskan Department Informasi dan Komunikasi. Padahal dalam pandanganku, department ini adalah department pubdekdok banget dan aku tidak memiliki bakat dalam hal dekor-mendekor seperti itu. Saat wawancara department Inkom pun aku tidak wawancara face to face dengan sang kadep, hanya melalui SMS, karena memang saat itu aku sedang sibuk P3KMABA 2010 dimana saat itu merupakan debutku menjadi divisi Acara dan memang acara tersebut sangatlah merepotkan.

Saat pengumuman pun begitu kecewanya aku saat aku "dibuang" di department dimana aku tidak ada passion dan bayangan sama sekali yaitu Department Informasi dan Komunikasi. Banyak program di Department ini tapi aku akan berfokus pada Facebook Himasitra Petra. Pada awalnya, admin dari fb Hima adalah semua anggota dan kadep Inkom dimana sudah dibagi pembagian piket sedemikian rupa sehingga facebook tetap bisa eksis, aku kebetulan dapat piket hari Jumat. 2 minggu awal fb Hima cukup update setiap hari, tapi hal tersebut hanya seumur jagung, oleh karena kesibukan dari masing-masing anggotanya, facebook hima terbengkalai dan seakan-akan hanya update hari Jumat saja. Karena aku merasa fb Hima kurang update padahal banyak yang harus diumumkan, maka akhirnya aku mengambil alih menjadi admin sampai masa jabatanku habis. Dan perlu diketahui, saat itu hampir semua anggota dan kadepnya menggunakan blackberry yag notabene bisa membuka facebook dari HP tanpa harus membuka laptop, sedangkan aku yang hanya berhandphone kan Nokia 3500 Classic hanya mengandalkan laptop untuk bisa mengupdate facebook.

Sebenarnya banyak hal menarik saat menjadi admin bertopeng (julukan dari para Civilers untukku). Tiap kali update status dan banyak yang mengelike rasanya sangat senang sekali, aku merasa Civilers juga merasakan kehadiran Hima dan Hima bukan saja hanya sebuah organisasi eksklusif. Berikut contoh-contoh dari status yang masih bisa kutelusuri :


Tentu saja sangat shock saat dapat wall seperti ini di FB Hima, terlebih aku juga BPH dari majalah Creative, akhirnya permasalahan ini diselesaikan melalui jalur memppertemukan kedua belah pihak yang ditengahi oleh Ketua majalah Creative yang juga anggota Department Inkom


Senang rasanya bisa melihat like yang begitu banyak. Terlebih status mengenai Civil Camp ini, berkeplekan divisi Keamanan tidaklah membuat hubungan sesama Civilers menjadi buruk bukan?


Kalau status ini agak-agak jayus sih, karena lagi hangat-hangatnya UTS dan tidak sengaja melihat status dari keduanya maka aku pasang status ini dengan berlabelkan display name Himasitra Petra.

Adakah anda pernah membaca status seperti di bawah ini dengan label Himasitra Petra yang membuat statusnya?


Benar, ini sebenarnya adalah status dari BPMF 2 yang dicopas ke status Himasitra Petra oleh admin bertopeng, admin bertopeng tidak menambahkan atau mengurangi suatu apapun dari status ini, tapi yang mendapat sambutan luar biasa dari Rektorat dan applause dari seluruh Himpunan Mahasiswa Petra adalah Himasitra Petra. 
Suatu siang saat lagi cangkruk di P4, tiba-tiba aku Ketua Himaku, Ko Lim mengulurkan tangannya dan memberiku selamat, aku terang saja bingung saat itu, ternyata Ko Lim bilang bahwa Himasitra Petra diberi feed back yang positif oleh rektorat dan Hima yang lain saat Kongres oleh karena status copas ini, aku pun jujur pada Ko Lim bahwa aku hanya mengopas dari FB BPMF 2 tapi aku senang juga bila kami sesama keluarga UK Petra tidak saling menjatuhkan.

Selain itu aku juga berkenalan dengan angkatan 2003 yang bernama Ko Peter yang sekarang tinggal di Belanda gara-gara kedokku sebagai admin bertopeng ini. Ternyata Ko Peter dulu juga merupakan fungsionaris Himasitra Department Informasi dan Komunikasi. Friend Himasitra Petra pun bisa menjangkau untuk alumni juga sejak saat itu.

Walau bukan anggota divisi Sekretariat dan Pubdekdok, aku juga memanfaatkan topengku ini untuk membantu temanku Aei Li, koordinator divisi Sekretariat LKTB untuk mendapatkan peserta LKTB, karena memang saat itu ada 2 lomba beton bergengsi lain yang sedang jalan bersamaan dengan LKTB dengan hadiah yang lebih besar dari LKTB, kontan saja bila hanya mengandalkan cara divisi Sekretariat agak susah untuk dapat menjaring peserta yang bertargetkan 50 kelompok ini. Aku pun segera meng-add dan mengirimkan privat message mengenai LKTB ini ke Hima-hima sipil yang ada di Indonesia, sampai-sampai sempat fb hima diblock karena terlalu banyak meng-add Hima-hima lain, banyak yang tidak menanggapi tapi tidak sedikit pula yang memberikan tanggapan dan mendaftar, seperti dari Binus, untuk pertama kalinya *kayaknya*, Binus mengirimkan timnya untuk ikut LKTB.

Selama menjadi anggota Department Inkom banyak yang aku syukuri, ternyata sepertinya aku memang cocok di Inkom dibanding di Bakmi. Selain itu, saat sebelum menjadi fungsionaris, hubunganku ada yang tidak baik dengan salah satu anggota Inkom saat aku menjabat sebagai anggota pula. Tapi justru sejak kami bekerja sama, hubungan kami menjadi lebih baik bahkan dia mempercayaiku untuk menjadi BPH di programnya. Masa akhir jabatanku di Hima sebenarnya sangat sedih karena aku tidak memanfaatkannya secara penuh, karena perlu diketahui semester awal di Hima aku tidak ada semangat dan berencana untuk keluar tapi digagalkan oleh Kahimku. Di akhir masa jabatan kami, kami bertanya alasan apa saja yang membuat kami menjadi Inkomerz dan aku menyadari bahwa salah satu temanku sebenarnya juga ingin masuk Hima Inkom tapi tertolak, yang diterima malah idenya akan blog hima tapi justru dijalankan oleh orang lain. Yang menjadi pelajaran adalah, dimana dan sebagaimanapun kamu ditempatkan, entah kamu suka atau tidak, benar-benar jalani itu dengan sepenuh hati, saat kamu sudah menjalani hal itu, kamu akan bersyukur bahwa tidak semua orang dipercayai seperti kamu.


Me with Inkomerz

Hitung Express? Siapa Takut?

Minggu lalu aku ke Bali untuk berlibur bersama ceceku, memang kami sudah merencanakan pergi ini sejak sekitar 2 – 3 bulan yang lalu. Awalnya sempat takut untuk meminta ijin, karena kan aku baru bekerja 3 bulan di kantor ini. Apalagi dari semua yang ikut ke Bali tidak ada satupun yang sebelumnya pernah ke Bali kecuali aku. Jadi aku di sana sekaligus sebagai divisi acara, tour guide dan penunjuk jalan walaupun aku juga tidak hafal dengan peta bali.

Pada hari ketiga di Bali, saat sedang mencari oleh – oleh di Agung Bali, tiba – tiba dapat BBM dari teman ceceku yang juga kontraktor, tapi dia tidak punya background Teknik Sipil loh, namanya Ko Feri, dia menawariku kerjaan membuat RAB rumah tinggal type 36, awalnya aku tertarik karena memang aku lebih suka menghitung volume disbanding menghitung struktur, tapi yang menjadi kendala adalah analisa harga satuan, karena Ko Feri pun tidak mempunyai list harga, karena memang dia baru buka jasa kontraktor dan harus selesai hari Senin, padahal dia member tugasnya hari Sabtu dan saat itu aku masih di Bali serta baru balik hari Minggunya, jadi aku cuma bisa mengerjakan hari Minggu saja, aku pun nego ke Ko Feri, kalau volume mungkin bias hari Senin, tapi analisa harganya tidak janji, karena data harganya juga dia tidak punya. Akhirnya aku diberi deadlinenya hari Selasa pagi.

Sempat bingung bagaimana nanti aku bisa membuat analisa harganya? Aku tidak mungkin membocorkan data kantor, jadi aku menggunakan analisa harga berdasarkan SNI 2002, bila ada pekerjaan yang tidak ada di SNI, aku baru memanipulasi harga kantor dan membuat perkerjaan tersebut menjadi lumpsum.

Sempat tidak yakin juga bisa menghitung volume serta analisanya dalam waktu hanya 2 hari dan seorang diri. Waktu tugas Biaya Proyek saja dikerjakan oleh 3 orang dan dalam waktu 4 hari dengan bangunan yang lebih simple. Apalagi di kantor ada peraturan boleh mengerjakan pekerjaan freelance asal jangan menggunakan fasilitas kantor. Jadi Minggu malam aku begadang sampai pk 2.00, tapi menghitung volumenya masih kurang 20% an, mata sudah ngantuk dan badan lemas, kemampuan badan kayaknya menurun dibanding saat kuliah. Akhirnya aku putuskan untuk tidur dan melanjutkannya besok. Saat di kantor, karena memang tidak ada kerjaan, aku pun curi – curi mengerjakan sisa hitungan volume yang kurang dan menandai SNI, bagian mana saja yang aku butuhkan, sehingga nanti malam saat mengerjakan di rumah tidak menghabiskan banyak waktu lagi. Akhirnya di hari Senin malam setelah pulang les Toefl, aku melanjutkan lagi sampai pukul 1.00 dan begitu senangnya karena pekerjaan bisa kelar.


Sepertinya aku menemukan kuncinya, yang terpenting adalah menyukai pekerjaan tersebut, ingat deadline, tidak bergantung orang lain, dapat mengatur waktu dan siasat dengan baik serta dapat melihat dan mengambil kesempatan yang ada. Walau memang menghitung volume dan membuat RAB fee-nya tidak sebesar menghitung struktur, (membuat RAB = Rp 2000/m2, menghitung struktur = Rp 8000/m2), tapi aku merasa jauh lebih enjoy membuat RAB, belum tentu juga aku bisa menyelesaikan pekerjaan menghitung struktur dalam waktu hanya 2 malam.