Minggu, 01 September 2013
Joglo – Bromo Never Ending Story Never Ending Walking (Part 2 - Jogja)
Bisa dibilang di Solo ini merupakan yang jalannya paling sedikit, Walk Less Eat More. Sesampai di stasiun balapan kami langsung disambut oleh Andrew dan itu pertama kalinya aku merasakan keahliannya menyetir. Biasa sih masih kurang hati-hati, lokasi kuliner pertama kami adalah Timlo di dekat Pasar Besar, Timlonya lumayan enak sih tapi tidak tergila-gila amat justru Ratna yang tergila-gila. Setelah itu mencoba dawet di Pasar Besar, enak banget menurutku tapi menurut teman-teman kemanisan. Setelah itu ke PGS untuk beli oleh-oleh batik untuk orang-orang karena kami tidak mendapatkannya di Jogja. Sebenarnya agak sungkan sih sama yang cowok karena harus mengikuti kami belanja, akhirnya kami mempercepat durasi belanja dan untungnya barangnya lumayan-lumayan jadi perlu waktu yang banyak untuk membeli.
Setelah itu kami pergi ke Kraton Solo dengan berjalan kaki *lagi* akumulasi jalan kaki pada 2 hari sebelumnya cukup membuat kami kelabakan, untungnya sih aku pakai sepatu jadi tidak sakit saat melewati kerikil-kerikil. Lokasi Kraton Solo ini lebih bagus dibanding Kraton Jogja dan juga tidak terlalu ramai lumayan buat lokasi foto-foto.
Setelah itu ke lokasi hotel kami untuk istirahat, aku memutuskan mandi dulu baru tidur karena aku cukup capek dan ngantuk saat itu, lumayan bisa tidur 1jam lebih. Setelah itu wisata kuliner kami berlanjut di bebek Pak H Slamet, bebek terenak kedua yang pernah aku coba. Pertama aku dan Ratna berencana untuk parohan es teh tapi karena begitu enak bebek dan nikmat sambalnya tak terasa kami malah akhirnya memesan 3 es teh.
Setelah itu masih lanjut makan jagung bakar, sudah cukup kenyang sebenarnya. Rencananya mau beli susu si Jack tapi kami batalkan karena kemalaman. Sesampai di hotel lagi-lagi main 7 skop sampai jam setengah 12 an dan aku yang tepar terlebih dahulu.
Makan pagi di solo hari kedua adalah Soto Seger Bu Ginem. Menurutku sotonya enak setelah itu kami lanjut makan tongseng, mampir di salah satu Mal di Solo setelah itu mampir di serabi Notosuman, serabinya enak dan murah, makan bakso dan terakhir beli oleh-oleh yang belum di toko Orion.
Tephen harus ke Airport sebelum jam 3, karena dia harus ke Jakarta lagi untuk ikut upacara 17 an di istana Negara. Tapi kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh batik lagi di kampung batik. Setelah mengantar Tephen ke Airport, aku menjajal kemampuan menyetir di kota orang, lumayan untuk sekalian menambah pengalaman. Aku menyetir dari airport sampai stasiun karena kami akan pulang ke Surabaya pada hari itu.
Perjalanan mengisi waktu libur yang menyenangkan bersama teman-teman sebelum aku mulai les TOEFL *lagi* minggu depannya.
Untuk foto2nya nyusul ajah ya :D
Joglo – Bromo Never Ending Story Never Ending Walking (Part 1 - Jogja)
Libur Lebaran di kantorku bisa dibilang lebih banyak dibanding dengan kebanyakan. Libur dari tanggal 7 – 18 Agustus, maka dari itu aku memanfaatkan libur panjang ini untuk berpergian bersama teman – teman. Tanggal 12 & 13 ke Jogjakarta, 14 & 15 ke Solo dan 16 & 17 ke Bromo.
Malam sebelum ke Jogja, Ratna menginap di rumahku, rencananya sih tidur awal tapi malah ngobrol – ngobrol sampai jam 1.00 an padahal kami rencana bangun jam 5.00. alhasil kami overslept sampai jam 6.12 itupun gara – gara ceceku mampir kamarku untuk mandi mempersiapkan diri ke kantor, kami tidak menyadari alarm HP kami masing – masing, padahal rencana berangkat pk. 6.30, kontan saja aku terperanjat dari kasur dan langsung menuju dapur untuk masak indomie, karena Ratna ingin sekali sarapan indomie, lagian kamar mandi masih dipakai ceceku untuk mandi.
Overslept but still ontime, waktu berangkat kami ke stasiun agak molor 10 menit dari rencana tapi kami masih ontime. Di kereta yang duduk di sebelah kami adalah pasangan bule yang cukup menarik perhatian. Di kereta kami tidak merasa bosan karena pemandangannya cukup bagus jadi selama 5 jam di kereta kami tidak merasa bokong tepos.
Sampai di stasiun Tugu sang tuan rumah malah mengalami kendala dengan kereta, jadinya kami disambut oleh Tephen yang juga baru datang dari Jakarta. Sampai di sana kami menuju hotel dengan berjalan kaki melewati Jalan Malioboro, dan ternyata Jalan Malioboro begitu ramai jadi koper kami jalannya agak tersendat-sendat. Setelah mandi dan sambil menunggu Andrew, kami berjalan – jalan di Mal dekat hotel, Mal nya simple dan mengingatkanku dengan Tugas Betonku, jumlah lantai 4 dengan tangga besar di depan tapi ternyata tidak ada yang begitu menarik di sana, jadi kami melanjutkan melihat-lihat di toko sekitar Malioboro. Setelah menyambut kedatangan Andrew, kami melanjutkan penelusuran kami di sekitar Malioboro hari itu. Kami ke benteng Vredeburg, tapi karena kami terlalu sore sampai sana jadi kami hanya melihat – lihat sejenak. Lalu melanjutkan perjalanan ke Kraton, tapi karena lagi – lagi terlalu malam, kraton pun sudah tutup juga jadi kami gunakan untuk makan mie dan nasgor Pak Pele. Ya, di Jogja Solo ini aktivitas kami hanya jalan dan makan. Sembari kembali menuju hotel, kami mampir dulu untuk beli kaos kembaran dan ke café Raminten untuk cangkruk dan makan mendoan.
Tak lama sampai di hotel, aku yang tepar duluan karena entah mengapa memang saat itu agak pusing. Oh ya, 1 kamar diisi 4 orang memang terasa sempit.
Bangun pagi hari kedua akulah yang bangun pertama kali. Hari kedua ini merupakan walking day, karena kami tidak menyewa mobil dan hanya menggunakan Trans Jogja di awal-awal dan taksi di akhir-akhir. Kami pertama mengunjungi Taman Pintar, taman ini seperti di Jatim Park jadi ada lokasi-lokasi edukasinya. Setelah dari Taman Pintar kami berencana ke Kraton lagi karena kemarin kratonnya masih tutup, di sana rencananya sih mau jajan pentol sundukan sama Ratna, tapi ternyata mahal sekali, 4 pentol dibandrol Rp 10000. Setelah itu berfoto dan keliling-keliling di kraton, awalnya kami rencana ke Kraton yang selatan karena di sana ada pohon beringin yang terkenal katanya bila bisa melewati 2 beringin kembar dengan ditutup matanya maka keinginan bisa terkabul, seperti di dongeng-dongeng saja. Setelah keliling Kraton sebenarnya kaki sudah mulai tak kuat, tujuan kami berikutnya adalah ayam geprek di wilayah PKL Mrican, agak jauh dari tempat Kraton, jadi kami naik Transjogja, halte Transjogja dari Kraton pun cukup jauh, rencananya sih mau naik becak tapi malang nian nasib kami tidak ada becak ya bersedia mengantarkan kami. Alhasil dengan sisa-sisa tenaga yang ada kami berjalan menuju Transjogja.
Perjalanan cukup lama, untungnya Transjogja sepi jadi kami bisa duduk, ternyata setelah sampai daerah ayam geprek pun kami harus mencari lokasi PKL tersebut dan tidak semua orang tahu. Jarak dari halte ke ayam geprek cukup jauh dan tidak pasti lokasinya. Setelah berjalan dengan cukup kebingungan dan melewati jalan kecil setara jalan di Siwalankerto, akhirnya kami menemukan lokasi PKL tersebut, entah mengapa saat mendekati aku punya feeling buruk kalau ayam geprek bakal tutup dan feelingku jarang-jarang benar begini. Ayam geprek gapleki tenan, sudah lapar, menempuh perjalanan jauh nan capek ternyata di-PHP sama ayam geprek, akhirnya kami mencoba ayam Pak Kobis yang katanya merupakan ayam geprek KW, lumayan lah mengisi perut yang sudah kosong sambil minum es teh, tapi kami rencana untuk ke Mall Jogja untuk ke cafenya Bong Chandra juga jadi kami telepon taxi, luar biasanya taxi datang tidak sampai 5 menit rasanya. Jadi kami buru-buru makan ayam geprek, eh ayam pak kobis.
Karena merasa belum puas dengan ayam geprek KW, kami memutuskan untuk makan lagi iga sapi di cow mad, kami pesan 2 porsi saja untuk berempat, lumayan lah cukup puas karena porsi yang cewek lebih besar. Hahaha. Setelah jalan-jalan sejenak di mal tersebut kami ke Café Bong, di sana jujur bingung mau pesan apa, mau pesan sejenis manisan pencit tapi habis jadi aku memesan yinyang coffee, susu tarik dengan kopi tarik. Sebenarnya aku tidak terlalu suka kopi, apalagi pernah punya pengalaman buruk dengan kopi, tapi lumayan juga lah. Yang menarik di café Bong sebenarnya hanya interiornya.
Setelah makan di café Bong, kami memutuskan ke Amplas Plaza sebelum ke Taman Pelangi. Amplas Plaza merupakan mal terbesar di Jogja katanya, kami menggunakan jasa Trans Jogja lagi, tapi nasib kami kali ini kurang mujur, Trans Jogjanya rame jadi kami terpaksa berdiri dan tidak disangka perjalanan cukup lama. Di Trans Jogja inilah kekuatan otot tangan kita diuji, apalagi posisiku bisa dibilang kurang enak, karena tidak bisa menyandar. Berdiri dengan berpegangan erat pada pegangan dan posisi kuda-kuda untuk pertahanan terhadap rem. Untungnya dulu waktu SMA pernah rutin push up, jadi tangan tidak terlalu gempor.
Sesampai di Amplas Plasa, Ratna mau ke toilet jadi kutemani, saat itu lokasi toilet cukup ramai. Ratna pun menitipkan tasnya padaku dan dia hanya membawa S3 mininya ke toilet. Ratna keluar dari toilet tanpa memegang apa-apa dan tanpa ada tonjolan di kantongnya, jarang-jarang aku memperhatikan hal kecil seperti ini, aku langsung menanyakan S3nya Ratna dan benar tertinggal di toilet. Untungnya orang yang masuk setelah Ratna merupakan orang yang baik dan mau mengembalikan.
Di Amplas ini sebenarnya hanya duduk-duduk dan minum macha saja sih, itupun nyoba punyanya Tephen, Tephen memang suka sekali dengan macha, aku juga suka sih makanya nyoba. Setelah itu ternyata memang sudah waktunya ke Taman Pelangi. Karena sudah cukup exhausted, kami memutuskan untuk naik Taxi, naik Taxi tidak mahal ternyata apalagi patungan orang 4. Taman Pelangi seperti BNS tapi mainannya hanya sepeda air, bom-bom car, ada juga sepeda yang pedalnya ada banyak. Taman Pelangi ini mengingatkanku dengan lokasi syuting ISWAK karena ada sepeda air dan sepeda yang pedalnya banyak. Kami di sana keliling lampion dan naik becak mini saja. Sebenarnya ingin naik sepeda yang pedalnya banyak tapi aku dan Ratna tidak teteh naik sepeda ontel dan aku pakai rok, jadi tidak leluasa, akhirnya batal deh.
Selesai dari Taman Lampion, kami naik Taxi lagi menuju Raminten yang pusatnya karena Ratna ngidam mendoan *lagi* dan sesampai di Raminten ngantree-nya bok, mengingatkanku ngantree di Din Tai Fung, system mereka pun sama dengan Din Tai Fung. Bedanya suasana Raminten suasana remang-remang. Jujur sebenarnya capek ngantree saat itu karena aku tidak begitu suka mengantree soalnya jadi pesanan pun saya percayakan pada teman-teman. Tapi ternyata antrean tidak selama yang saya bayangkan dan memang harga dan porsi di pusatnya lebih murah dan besar. Lumayan lah, tidak begitu kecewa. Setelah itu kami kembali ke hotel menggunakan Taxi lagi. Setelah dicek ternyata kami sudah jalan 26000 langkah.
Sesampai di hotel malah diajak Ratna main 7 skop. Kami main sampai jam 3 subuh, bayangkan, tapi saat semua sudah tepar terkapar tidur, hanya aku yang tidak bisa tidur, entah apa karena efek dari kopi yang aku minum di Café Bong atau tidak. Melihat jam di HP sampai jam 4 pun aku masih belum bisa tidur, jadi aku memutuskan untuk keliling hotel agar tidak bosan, tapi ternyata hotelnya membosankan, kecil dan tidak ada yang bisa dilihat akhirnya aku kembali lagi ke kamar dan posisiku sudah dikuasai Ratna alhasil aku semakin tidak bisa tidur. Ya bisa sih tapi Cuma 15 menit rasanya dan aku tetap seger. Aneh sekali. Padahal pagi-pagi kami harus sudah ke stasiun untuk ke Solo jadi aku memutuskan untuk sekalian tidak tidur waktu itu agar bisa membangunkan teman-teman takutnya overslept.
Cerita di Solo akan hadir di Joglo Part 2 :D
Senin, 26 Agustus 2013
Sepenggal Kisah Perjuangan di Teknik Sipil
Saat PRS semester 4 kalau tidak salah, ada teman saya yang tidak bisa datang perwalian karena ada acara keluarga di luar negeri, saya pun diminta tolong untuk mewakili, dan ternyata saya baru sadar ternyata teman saya itu merupakan mahasiswa yang mendapat surat peringatan dari Sekretaris Jurusan karena nilainya tidak cukup bagus. Saat menghadapi dosen walinya pun, ternyata beliau marah habis – habisan dan sedikit menjelek-jelekan teman saya tersebut. Saya merasa tidak tega sebenarnya bila menceritakan apa yang diucapkan dosen walinya tersebut pada teman saya, saya hanya berpesan sama teman saya tersebut, kamu harus bisa menunjukan pada dosen walimu bahwa nilaimu bisa lebih baik lagi dan saya menawarkan mengajarinya beberapa mata kuliah.
Semester 4 saya mengambil mata kuliah Rekayasa Pondasi dan ternyata saya sekelas dengan temannya kakak saya yang angkatan 2006. Saat UAS, mereka mengajak saya belajar bersama, saya pun setuju dan saat belajar bersama saya melihat bahwa dasar teorinya pun mereka masih belum paham, akhirnya kami sama-sama belajar lagi dari awal. Di sela-sela belajar bersama tersebut tiba-tiba ada seorang yang nyeletuk, “Dulu aku yang ngospeki Maba sekarang Mabanya belajar bersama-sama dengan aku”. Saat saya telusuri ternyata dia dulunya juga seorang mahasiswa aktif yang juga sempat menjadi BPMF. Saat itu saya yang masih berlabelkan fungsionaris Hima saat itu seperti tertampar dan berpikir,”Dulu koko ini yang melayani mahasiswa Sipil, sekarang bahkan Hima tidak menyadari ada koko ini yang butuh bantuan”, lebih tertampar lagi saat mengetahui bahwa bila koko tersebut tidak lulus Rekayasa Pondasinya maka dia tidak bisa sidang akhir dan molor lagi. Saat itu saya tidak peduli, pokoknya kami harus bisa Rekayasa Pondasinya.
Dari kedua kisah tersebut saya menyadari bahwa tampaknya kita sudah berdiri teguh, kita merasa diri kita baik – baik saja tapi kita tidak menyadari bahwa banyak yang membutuhkan kita juga. Pelajaran teknik sipil yang menurut saya sulit lah yang membukakan mata saya untuk bisa saling membantu satu dengan yang lainnya.
Tes TOEFL Prediction yang Bisa Diprediksi
Aku selama 2 bulan kemarin mengikuti les TOEFL PBT agar dapat meningkatkan nilai TOEFL ku karena memang TOEFL merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan beasiswa di Taiwan, minimum 500 walau tidak tertulis secara langsung. Di les-lesan tersebut mendapat gratis test Toefl Prediction di akhir dari pembelajaran.
Selama di kantor seminggu sebelum tes aku benar – benar free dan nganggur jadi aku gunakan waktuku seminggu di kantor untuk belajar otodidak, kebetulan aku habis membeli 2 buku, yang satu buku bekas yang aku beli di Kampoeng Ilmu dengan harga Rp 20.000 saja. Tapi justru buku itulah yang menurutku sangat berguna. Ada 8 soal latihan beserta kunci jawaban dan penjelasannya dan aku menemui banyak hal yang belum dipelajari saat aku les, terlebih untuk structure. Tapi aku mudah sekali mengantuk dan bosan tapi menurutku perkembangan 1 minggu itu cukup baik, terbukti salahku di structure berkurang walau sedikit dan readingku sudah bisa memahami cara menjawab walau belum bisa cepat mengerjakan.
Malam sebelum Tes Prediction di les-lesan, aku belajar latihan soal structure dengan teman-teman di salah satu restoran Fast Food. Kami mengerjakan soal dari internet dengan mewaktui sendiri yaitu 25 menit. Setelah itu kami membahasnya bersama-sama. Memang aku yang paling tidak bisa Inggris, walau sudah belajar selama 1 minggu secara otodidak di kantor tetap saja tidak secanggih mereka. Padahal yang canggih tidak berencana ke luar negeri. Feeling mereka sudah cukup baik dalam menjawab, sedangkan aku harus mengandalkan hafalan beberapa rumus yang memang sudah aku tulis ulang di catatanku, maka dari itu aku tidak bisa mengerjakan secara express juga. Di resto tersebut juga sempat bertemu dengan Ko Aron yang merupakan kakak kelas yang berhasil studi lanjut di tempat tujuanku di Taiwan tersebut. Tapi memang sih Ko Aron adalah IPK terbaik angkatan 2008, sedangkan aku cumlaude saja tidak dapat, dibandingkan Septian dan Maria yaitu adik kelas yang berencana untuk studi lanjut ke Taiwan juga, IPKku juga lebih rendah dari mereka. Kadang aku pun menyesali mengapa aku tidak bisa optimal di awal-awal semesterku dan mengapa malah Kredit Point ku yang terlalu overdosis.
Saat keesokan harinya, begitu shocknya ternyata soalnya sama persis dengan latihan kami kemarin, sayangnya kami hanya mengerjakan structurenya saja. Listeningnya menurutku cukup susah dan readingnya sebenarnya tidak terlalu susah tapi waktunya tidak nutut. Sedikit merasa kecewa karena hasilnya pasti tidak valid, karena dalam mengerjakan structure aku hanya berpatok pada hafalan jawaban kemarin. Sebenarnya agak kecewa sih dengan les-lesan yang ini, aku berencana belajar sendiri lagi awalnya sampai tes ITP Aminef yang diakui tersebut, tapi papaku menyuruhku untuk les lagi. Aku pun mencari info lagi mengenai di mana les TOEFL PBT ITP yang bagus dan tidak terlalu mahal, karena memang sudah jarang dan ada pun biasanya mahal. Beberapa hari lalu, teman seperjuanganku di P3KMABA yang menjadi Koordinator Acara P3KMABA 2012, Celia tiba-tiba meminta data-data P3KMABA tahun lalu saat aku menjadi sekretarisnya, iseng-iseng pun aku tanya padanya dimana les TOEFL PBT yang bagus dan tidak terlalu mahal, karena dia memang sudah di Belanda yang pastinya pernah belajar TOEFL atau IELTS. Dia tahu yang bagus tapi tidak tahu harganya dan dia memberiku nomer teleponnya, setelah aku telepon ternyata lesnya hanya 13 hari saja tapi seharinya 3,5jam dan dari hari Senin-Jumat. Lokasinya pun dekat dengan rumahku yaitu di Araya. Semoga ini salah satu kunci untuk dapat membuka salah satu dari gembok pintu cita-citaku.
Every Simple Thing Made Us Learn
Sudah lama sekali tidak menulis blog, di kantor tidak terlalu sibuk tapi aku gunakan untuk belajar TOEFL, judul di atas benar tidak ya grammarnya? :p
Setidaknya belajar TOEFL membuatku sedikit lebih percaya diri untuk menulis dalam bahasa Inggris, kecuali di blog tidak dulu kayaknya, karena aku men-translate motivation letterku saja butuh waktu 4 jam, padahal hanya mentranslate karena aku sudah membuat kata – kata dalam bahasa Indonesianya. Itu pun hanya selembar HVS A4 saja.
Sebenarnya seminggu ini tidak bisa terlalu banyak belajar TOEFL karena aku mendapat job sampingan lagi menghitung volume. Entah mengapa aku cukup percaya diri walaupun sebenarnya tidak, dalam menerima job menghitung volume (asal denah dan tenggat waktunya masuk akal). Clientku kali ini adalah teman kuliahku, mereka 4 orang bersama – sama merger untuk membuat suatu perusahaan kontraktor, bisa jadi ini adalah proyek pertama mereka dalam penawaran. Mereka sebenarnya bisa menghitung sendiri, toh background mereka juga sipil tapi mungkin waktu yang terlalu mepet dan mereka baru saja lulus jadi belum ada pengalaman menghitung volume secara kilat maka minta bantuanku.
Belajar dari pengalaman menghitung volume vila, aku pun minta lihat dulu denahnya bagaimana, setelah aku melihat denahnya dan bertanya deadline nya yang sekitar 5 malam, aku pun berani menerima tawaran tersebut, karena memang denahnya masih masuk akal. Melihat denah yang lebih simple, maka aku pun memakai kesempatan kali ini untuk membuat suatu format analisa versiku (sebelumnya aku menggabungkan format analisa orang – orang jadi tampak berantakan dan tidak bisa digunakan untuk proyek berikutnya lagi). Hal inilah yang membuat waktu kerja yang seharusnya bisa lebih singkat menjadi agak lebih lama, bahkan malam terakhir deadline pun aku baru tidur saat orang – orang pada sahur.
Tapi aku cukup puas karena aku memiliki format sendiri, yaitu format system hitung di quantity sheet yang aku secara tidak sengaja mempelajari saat dapat job hitung vila dan sekarang aku memiliki format analisa harga satuan sendiri. Tidak dapat dipungkiri, untuk membuat suatu format seperti itu awalnya memerlukan effort waktu dan tenaga yang lebih banyak, tapi memang terbukti aku bisa menghitung volume secara kilat setelah itu. Menghitung volume pekerjaan struktur 2 buah ruko dalam 3 jam aku tidak pernah memikirkan sebelumnya bisa menghitung secepat itu.
Menghitungkan 3 clientku ini memang effortnya tidak tidur, dimarahi karena harga kurang cocok, perhitungan tidak presisi, tapi aku belajar di tiap casenya. Client pertama aku jadi mengerti, bahwa spek material untuk tiap jenis proyek tidaklah sama, seperti rumah, ruko, gudang, bahkan rumahpun tergantung ukurannya juga. Karena tidak dapat dipungkiri, ke 3 clientku sama – sama tidak ada list harga material dan upah. Tentu sedikit kelabakan, untung ada internet dan tugas Bipro, jadi harganya aku bisa menyesuaikan dari sana.
Client keduaku merupakan tugas tergila yang aku dapatkan sampai saat ini. Menghitung 2 type vila bertingkat dalam waktu hanya 7 hari dengan spek material yang tidak lazim. Dari sana aku dituntut harus dapat menghitung express dan secara tidak sengaja aku menemukan cara tersebut. Kadang aku puas sendiri dengan cara perhitungan expressku itu.
Client ketiga aku mulai membuat standratisasi dari analisaku dan aku merasa puas bahwa analisaku tidak asal – asalan lagi dan aku memiliki standart untuk proyek yang berikutnya.
Menjadi seorang estimator sebenarnya menyenangkan tapi susah dijalani karena bakal tidak tidur.
Jumat, 05 Juli 2013
Joe Cheng is not as perfect as Jiang Zhi Shu
Sebal sekali karena wifi
kantor diganti, Bbm jadi lemot dan tidak bias connect whatsapp. Jadi saat
menganggur begini aku gunakan untuk belajar toefl atau membaca buku, tapi aku
mudah sekali bosan memang, akhirnya memutuskan menulis blog lagi.
Beberapa waktu yang lalu aku
googling foto – foto Bryan Zheng alias Joe Cheng dan aku mulai menyadari apa
yang aku sukai darinya yaitudia berani tampil jelek dan gokil berbeda dengan
kebanyakan model dan artis yang tampil sok cool dan takut wajah mereka terlihat
jelek, Bryan Zheng malah menunjukkan bahwa dirinya memang orang yang usil dan
gokil. Ada seorang temanku yang bilang bahwa Bryan Zheng bermuka tengil.
Memang bila dilihat dan
dibandingkan, Jiang Zhi Shu ( perannya di Its Started With a Kiss) adalah cowok
super sempurna. Cakep, jenius, keluarga berada dan memiliki keluarga bahagia.
Dia memang terlihat wow saat aku melihat serial ini. Tapi setelah tersadarkan,
yang aku kagumi adalah seorang Joe Cheng, bukan seorang Jiang Zhi Shu.
Berikut adalah perbandingan
Joe Cheng si tengil dengan Jiang Zhi Shu si cool :
Jiang Zhi Shu, Genius Boy
Joe Cheng, Cowok Tengil
Untuk menjadi bahagia tidak
perlu menjadi orang yang sempurna, tapi jadilah dirimu sendiri.
Trip to JJ Lin and Nickhun Country
Sebenarnya ini cerita lama
sih, tapi baru kuceritakan sekarang. Sebelum tahun 2012, aku sama sekali belum
ke luar negeri, boro-boro keluar negeri, keluar kota atau luar pulau saja
jarang-jarang. Dulu aku ingin sekali bisa ke Singapura dan menemukan toko
miliki JJ Lin dan ternyata impianku itu bisa jadi kenyataan pada Februari 2012.
Singapura merupakan kota
yang sangatlah rapi dan bersih dibandingkan dengan di Surabaya, masyarakatnya
campuran, ada yang Chinese, melayu bahkan orang barat, maka dari itu bahasa
yang sering digunakan adalah bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Biaya hidup
dan makan di Singapura mahal sekali, hampir semua lebih mahal dari Surabaya
kecuali ice cream roti. Bila di Surabaya ice cream roti dibandrol sekitar Rp.
15.000, di kota asalnya hanya dikenai biaya 1 SGD atau setara dengan Rp 8.000,
rasanya pun sepertinya enakan yang asli Singapura karena bisa dimakan sambil
berjalan di trotoar depan mal, kalau di Surabaya kan makannya di dalam mal.
Aku hanya ke Orchard Road,
Sentosa Island dan Universal Studio. Orchard Road adalah jalan yang penuh
dengan mal, sekeliling rasanya mal semua dan memang kebetulan saat itu hotel
kami dekat dengan Orchard Road. Ada 1 mal yang cukup menarik, karena
pembangunannya bukan ke atas, tapi ke bawah, jadi isi malnya ada di lantai
bawah pintu masuk sampai beberapa lantai, mal tersebut adalah Ion Orchard.
Sebenarnya banyak mal di Orchard Road tapi aku lebih tertarik di Ion Orchard
dan Lucky Plaza. Kalau Lucky Plaza, memang arsitekturnya lebih mirip pasar atum
versi kecil tapi harganya pun juga lebih murah, secara bukan barang bermerk. Di
Singapura ini impianku mengunjungi toko JJ Lin menjadi kenyataan, tapi hanya
sekedar melihat dan foto dari luar karena harganya cukup tinggi. Oya, “mas-mas”
dan “mbak-mbak” penjaga toko di Singapura cakep-cakep loh. Bahkan yang menjaga
di toko JJ Lin lebih cakep daripada JJ Lin-nya.
Makanan di Singapura
sebenarnya biasa saja sih, yang enak mungkin Din Tai Fung, Din Tai Fung memang
ada di Surabaya tapi ternyata yang di jual berbeda dan rasanya berbeda. Din Tai
Fung di Singapura ini ramai sekali, orang mengantre makan seperti mengantre
dokter, ada nomer antrean dan itu pun tergantung meja yang kosong, jadi missal
si A datang lebih dulu dengan jumlah 3 orang, sedangkan si B datang dengan 2
orang, bila meja yang kosong dahulu adanya yang 2 orang, si B yang akan
dimasukkan terlebih dahulu. Serta sambil menunggu, customer dipersilahkan
memilih menu. Menu di Din Tai Fung bertuliskan Han Zi, jadi kami agak kesulitan,
untungnya kami ingin membeli Xiao Long Bao, jadi kami mencari 3 huruf dengan
huruf Xiao yang berarti ‘Kecil’ di buku menu.
Kalau anda ingin puas di USS
dan suka dengan permainan saya sangat menyarankan untuk membeli tiket express,
tiket biasa antrenya tidak aturan, seharian bisa-bisa Cuma bisa main 3-4
permainan saja. Lama di antreenya. Memang menambah sekitar Rp 200.000 tapi
cukup worthed dengan yang di dapatkan. Oya disarankan kalau ingin menghemat
pengeluaran, jangan nginap di hotel, lebih baik di apartment saja.
Singapura sangat taat
peraturan jadi jangan sekali-kali melanggar peraturan, membuang sampah
sembarangan atau tidak memakai sabuk pengaman saat di mobil. Sopir-sopir taksi
di sana lebih menyarankan kita jalan kaki bila tujuan kita dekat dibanding naik
taxinya, bahkan ada pula yang menyindir, ”Kamu itu masih muda, masa ke sana aja
pakai naik taxi.”
Di Floating Market, terinspirasi setelah melihat Running Man
Aku dengan 'Nickhun' di Madame Tussaud Bangkok Thailand
Setelah dari Singapura, kami
melanjutkan perjalanan ke Bangkok, biaya hidup di Bangkok kurang lebih sama
seperti di Surabaya, tapi lalu lintasnya bokkkk, sangat amat semrawut. Aku
tidak tertarik lihat banci show di sana jadi hanya beli barang-barang di sana,
baju, sepatu, tas dan beberapa barang di sana jauh lebih bagus dibanding di
Surabaya. Aku membeli tas sneaker hanya dengan Rp 45.000, aku pernah lihat di
online shop, barang yang sejenis dibandrol Rp 150.000. Ada juga pensil kayu di
sana hanya dijual Rp 1500, konon katanya di sini dijual juga tapi di mal dengan
harga Rp 50.000. Cuannya orang sini tidak aturan.
Seafood terenak yang pernah
aku makan juga ada di Bangkok, bumbunya enak sekali, jimbaran tidak ada
apa-apanya, harganya pun tidak ada apa-apanya. Karena tidak ditulis harga di
daftar menu, jadi kami memesan sesukanya, eh ternyata di tagihan tertulis 7000
Bhat, bila 1 Bhat adalah Rp 300, silahkan di Rupiahkan sendiri. Setelah insiden
makan mewah tersebut, hari-hari berikutnya kami hanya makan KFC.
Entah rasanya kok sering
sekali dibohongi di Thailand ini, becak di sana dikenal dengan nama Tuktuk,
tapi sopirnya ada di depan, awalnya perjalanan dekat dibandrol 100 Bhat, karena
kami tidak tahu harga jadi ya naik saja. Ternyata di hari terakhir di Bangkok
ini kami bertemu dengan salah satu Tuktuk dari asosiasi TukTuk, keliling ke
sana ke mari Cuma 50 Bhat.
Saat itu aku
hangat-hangatnya menonton Running Man yang berkunjung di Thailand, dari sana
tertarik untuk mengunjungi floating market, tempat berjualan souvenir tapi
konsepnya pasar terapung, kayaknya saat itu dibohongi lagi, perjalanan jauh
sekali, mungkin seperti dari Surabaya-Malang, sampai sana menyewa kapal sekitar
Rp 1.000.000, semakin tidak aturan saja. Souvenir yang dibeli tidak semahal
kapalnya.
Hari terakhir agar tidak
menyesal ke Bangkok, aku pun mengunjungi Madame Tussaud, lokasi patung lilin
para tokoh-tokoh terkenal.setengah tahun sebelumnya temanku ada yang ke Madame
Tussaud belum ada patung lilin Nickhun, setengah tahun setelah aku pergi,
sepupuku ke Madame Tussaud dan patung lilin Nikchun sudah raib, cukup beruntung
juga aku. Walau banyak hal yang terjadi dan dibohongi, asal kita tidak
memikirkannya dan focus enjoy dengan liburan kita tentunya liburan kita akan
lebih menyenangkan, biarlah pengalaman tersebut sebagai pedoman kita untuk
berpergian di lain hari.
Langganan:
Postingan (Atom)














